Norah ~ sudah mulai muak

     Dari awal kenal edo, tak ada satupun sikap edo yang tak kusukai, edo begitu baik, pengertian, apapun permintaanku sebisa mungkin edo turuti, itulah yang membuatku benar benar jatuh cinta pada edo. Hubungan ku dengan edo berjalan baik bahkan  sampai beberapa tahun, tapi yang namanya hubungan pasti ada pasang surutnya, saat sedang ribut dengan edo,aku sering kali mencari pelarian dengan sedikit mempererat hubungan dengan teman lelaki ku. beni sudah pasti ada dalam daftar ini, beni lah satu satunya lelaki yang paling bertahan di dekatku, meski tak pernah sekalipun kami memperjelas apa makna kedekatan ini, sudah bisa di pastikan setiap kali aku ribut sama edo pastilah beni menjadi teman setia kesana kemari, cerita dari a sampai z. Tanpa kusadari rasa ku kepada beni semakin besar, rasanya sangat ingin memiliki, namun apalah daya beni tidak pernah memberikan sinyal itu, mungkin juga karena beni sudah punya pacar. Yah beni punya pacar, namanya tika, aku tau beni sangat menyayangi tika, sampai dia mengabadikan inisial nama tika dalam bentuk tato di tubuhnya.
    Saat hubunganku dengan edo membaik, dunia terasa sangat menyenangkan, sikap sikap lembut edo selalu bisa membuatku merasa nyaman. Namun lama kelamaan edo mulai semena mena, dia selalu memintaku melakukan hal hal yang kadang hampir tak masuk akal, edo itu fikirannya cuma sex sex dan sex, tak ada jedah setiap hari!
Aku yang awalnya menikmati berhubungan intim dengan edo lama kelamaan mulai muak, dan sialnya edo selalu saja marah jika aku tak menuruti maunya, dan dengan sangat terpaksa aku turuti kemauan edo, sampai suati hari aku benar benar sudah tidak tahan dan memutuskan untuk benar benar putus dari edo "aku mau kita putus, aku uda capek"
"Jangan gitu norah, iya aku janji aku akan berubah" itu yang selalu diucapkan edo, dia tak segan memohon bahkan menyembah di kakiku. Edo memang baik, tapi gaya berpacaran dia tak masuk akal, aku muak, aku waktu itu punya teman lelaki lain namanya miko, miko yang selalu mendengar semua ceritaku tentang edo, miko juga mulai naik pitam melihat tingkah edo,
Miko lah yang memberikan aku kekuatan untuk berani mutusin edo, sampai suatu hari aku memutuskan hubunganku dengan edo melalui telepon, dan saat itu juga dia bilang dia mau kerumaku, sontak aku meminta miko untuk datang ke runah juga, aku takut edo akan berbuat yang tidak tidak, aku takut marah nya edo akan malampaui batas.
Edo dan miko tiba disaat yang bersamaan, aku yg saat itu berdiri di teras tak sedikitpun dihiraukan edo, dia menerobos masuk kedalam rumah untuk menemui mamaku. Setelah dipersilahkan duduk, edo mulai berbicara dengan mama "bu, anak ibu itu sudah tidak perawan lagi, saya yang buat, tapi sekarang dia malah mutusin saya" aku yang kaget setengah mati mendengar omongan edo hanya bisa menangis, tanpa kusadari miko sudah menggenggam tanganku "sabar norah, jangan takut, ada aku disini" bisik miko di telingaku.
Aku juga heran kenapa mama waktu itu tidak terlihat marah sedikitpun, mama cuma tersenyum dan bilang ke edo "iyauda kalau memang begitu, norah mutusin kamu yah itu mau dia, jadi sekarang nak edo tidak usah datang datang kesini lagi" jujur aku kaget mendengar jawaban mama tapi terselip sedikit senang karena dia tak mau ikut campur dalam urusanku dengan edo.
Edo yang saat itu kesal langsung pamit dari hadapan mama, dia pergi tanpa sedikitpun memandangku.
   Semenjak kejadian itu miko semakin dekat denganku,aku merasa sangat beruntung bisa megenalnya. Sekitar 2 bulan setelah putusnya aku dan edo, miko menyatakan perasaan sayangnya kepadaku, aku yang waktu itu masih merasa kecewa dengan lelaki, sepertinya tanpa sadar telah menerima miko sebagai pacarku, menurutku dia baik, dan dia bisa pahami latar belakang hubunganku dengan edo dulu.
Dan akhirnya kami pun resmi berpacaran, namun beberapa hari setelah kami berpacaran aku merasa ada yang aneh dengan perutku, sering mual dan terasa penuh, akhirnya aku beranikan diri untuk membeli alat tes kehamilan, saat aku cek 'positif' aku kaget dan saat itu juga langsung menghubungi miko, aku bilang kalau aku hamil(waktu itu usiaku 19 tahun), miko yang tau ceritaku dengan edo saat berpacaran, dengan sabar menenangkanku "pasti ada jalan keluarnya, kamu sabar". Aku sangat bangga sekaligus heran melihat kebesaran hati miko.
Lalu miko menyarankan supaya aku menemui edo untuk meminta pertanggung jawabannya, jujur saat itu aku frustasi, susah payah aku berjuang untuk putus dari edo hari itu rasanya seperti akan masuk ke lubang yang sama lagi, kalau aku cerita ke edo sudah pasti dia akan menikahiku, aku tak mau itu terjadi, rasa rasanya aku sudah jijik melihat edo, aku muak dengan sikapnya, "ya tuhannn, kenapa jadi seperti ini?"
Setelah beberapa hari menolak untuk menghubungi edo, akhirnya hari ini kurelakan waktuku untuk bertemu edo lagi, demi apa yang ada di dalam perutku ini, sewaktu aku bilang ke edo aku hamil, dia senang dan bilang akan menikahiku, aku yang tidak mau  menikah dengannya, sudah pasti membantah.
Malam itu edo mengajakku untuk pergi sebentar, mau ngomong penting katanya, aku yang pada saat itu berstatus pacar miko dengan maksud agar tidak terjadi kesalahpahaman, saat edo mengajak pergi akupun bilang ke miko kalau aku dan edo akan bertemu, nanti setelah selesai dengan edo aku berencana bertemu miko.
    Akhirnya akupun pergi dengan edo, dia membawaku berjalan sedikit menjauh dari kota, dan dia berhentikan motornya di depan sebuah hotel, aku saat itu berfikir mungkin edo butuh privasi untuk ngomong serius, tak ada pikiran negatif di benakku.
Namun setibanya di kamar hotel dia langsung mengunci pintu kamar, dan langsung melepas semua pakaian nya "kamu akan jadi istri aku, sekarang kamu turuti aja apa kataku"
Aku yang kaget refleks mendorongnya "gak sudi aku menikah denganmu!!" Dan yang saat itu terjadi adalah edo hampir memperkosaku, tapi aku berhasil menyelamatkan diri, kunci kamar hotel yang tadi dia letakkan di saku bajunya tercecer entah dimana, aku hanya bisa menangis di sudut kamar, Edo akhirnya luluh, dia minta maaf dan janji akan bertanggung jawab, aku tetap saja tidak mau dan terus menangis, akhirnya kunci ketemu,aku langsung membuka pintu dan lari menjauh dari hotel itu, edo yang saat itu tak mengenakan baju sehelaipun, saat aku pergi dia terlihat menutup pintu, aku tak lagi memperdulikannya dan langsung lari menerobos sepinya jalan raya, sambil berjalan aku hubungi miko "miko aku hampir diperkosa edo, ini aku sekarang dijalan mau pulang, kita ketemu di cafe ya" langsung aku tutup telpon, karena aku lihat edo sudah dibelakangku "ayo norah aku antar saja" sudah pasti aku tak percaya lagi dengan dia lelaki yang hampir saja memperkosaku. "Ayolah norah, tempat ini sangat jauh dari rumahmu, aku minta maaf tadi aku salah sikap" karena terlalu jauh aku fikir untuk ditempuh dengan berjalan kaki, aku pun naik ke motor edo.
Sesampainya di cafe kulihat tama adikku dan miko sedang duduk di parkiran, cafe itu yang tidak lain adalah tempat biasa tama nongkrong sudah pasti dipenuhi oleh teman temannya.
Begitu aku turun dari motor edo, tama langsung mendaratkan tonjokan tepat di wajah edo, ternyata tama mengetahui sikap edo tadi selagi dia membawaku pergi, tanpa ampun tama menghajar edo, edo yang menyadari kesalahannya hanya bisa diam tak membalas.

Bersambung . . .

Comments