Norah ~ Menemukan titik terang

Hari-hariku berubah penuh setelah itu, setiap harinya sepulang kerja sudah pasti kalian akan menemuiku di sebuah coffeeshop duduk dipojokan dengan secangkir V60, buku dimeja dan alat tulis yang sedang kupegang.
Hari demi hari semakin monoton,sampai suatu hari aku putuskan untuk menerima ajakan temanku untuk mengurus sebuah acara sosial media "nanti kamu bakal ketemu banyak orang baru, biar gak galau terus"
Tak akan aku lupa, itu adalah bulan september, di dalam grup itu aku merasa semangatku kembali pulih, berkenalan dengan orang baru dengan berbagai karakter.
Disanalah aku mengenal jason,seorang lelaki yang mempunyai selera hampir 100% sama denganku, dari grup kami berlanjut sering berbalas pesan pribadi, sampai akhirnya kami memutuskan untuk bertemu dan menonton konser indie,meskipun ada sedikit drama di konser karena begitu banyaknya pengunjung dan kami kesusahan untuk bertemu, akhirnya sebelum pulang aku sempat bertemu dengan jason, untuk pertama kalinya aku bertemu jason sepertinya hati kecilku takut, tidak tau kenapa aku merasa minder, tidak mungkin bisa, tidak cocok dan banyak alasan lain yang hati ku isyaratkan untuk tidak berharap terlalu jauh.
Namun setelah pertemuan itu jason malah makin menunjukkan perhatiannya, seolah memberi sinyal bahwa dia menyukaiku, sejujurnya hati kecilku menolak,gimana kalau nanti ternyata dia sama dengan yang lain, dia ini, dia itu, begitu banyak alasan yang diberikan logikaku untuk tidak melanjutkan apapun itu bersama jason, tapi nyatanya logikaku kalah dengan setiap perhatian yang diberikan jason.
Tepat hari sabtu tanggal 23 september aku kembali bertemu jason, sejujurnya aku menyiapkan penampilan terbaikku hari itu, dress panjang berwarna hitam dibalut jaket denim kesayanganku, dan tentu saja bandana merah yang menjadi ciri khasku, bersama beberapa teman kami menghabiskan sabtu malam di sebuah tempat yang dipenuhi jajanan, ketawa ketiwi sambil memainkan sebuah permainan. Rasa ku ke jason bukan lagi sekedar suka, dalam sekejap perkenalan kami, aku sudah mengharapkan lebih dari sekedar pertemanan biasa, bukan tanpa sebab, jason yang memulainya,dia selalu menyapaku setiap harinya, bertelfon ria hingga berjam-jam, itu semua membuat logikaku terbunuh dan merasa sudah sembuh dari luka lama yang begitu sakit kurasa.
Beberapa hari sebelum 23 september ini, jason menanyakan kepadaku, apakah aku sudah benar-benar sembuh dari luka lama itu, dengan yakin aku menjawab sudah, dan itu semua karenamu jason, seorang lelaki yang terlalu asik jika hanya menjadi temanku.
Entah kenapa di sabtu malam itu aku yakin jason akan mengatakan cintanya padaku, entah kenapa aku begitu yakin, tapi nyatanya setelah kami lelah dengan permainan di malam itu hingga pindah ke coffeeshop dia tak sedikit pun menyatakannya.
Aku kecewa malam itu, mungkin dia masih butuh waktu mempertimbangkan beberapa hal pikirku.
Sekitar tengah malam kami bubar dan aku pulang diantar temanku kris, ya setelah aku lelah dengan duniaku dan beni, kris hampir setiap hari kukunjungi di coffeshopnya yang sempit itu, ternyata dibalik sikap ceplas-ceplos kris dia adalah orang yang punya logika cukup bagus menurutku, petuah darinya menjadi cemilanku setiap hari saat berada di coffeeshop nya.
Malam itu aku bilang ke jason kalau aku akan pulang diantar kris, kebetulan rumah kami dekat, aku yakin jason akan sedikit terganggu dengan itu tapi tidak mungkin aku pulang tengah malam begitu sendirian, jujur saja malam itu aku gak terlalu memikirkan apa yang dirasakan jason, karna aku sudah merasa cukup kecewa atas apa yang terjadi malam itu.
Sesampainya dirumah ternyata jason langsung menelfon ku, setelah ngomong panjang lebar, ngalur-ngidul, akhirnya jason menyatakan nya, yahh dia bilang dia mau kami tidak hanya berteman, dia mau aku sembuh dari luka lama dan melupakan itu semua, tanpa ragu aku sudah pasti menerimanya, maka minggu 24 september pukul 4 dinihari aku dan jason resmi berpacaran.

Comments