Setelah hari hari panjang yang kami lewati. Jason bercerita kepadaku bahwa dia mendapat tawaran kerja di Ibukota, aku bukanlah tipe pacar yang suka melarang kekasihku, apapun pilihannya akan kuiyakan. Maka saat dia bilang di Jakarta kehidupannya akan lebih baik, aku hanya bisa mendukungnya kekasihku tersayang yang ternyata sedang krisis jati diri.
Hari dimana aku mengantarnya ke bandara adalah hari dimana hatiku sangat hancur,pasrah dan takut, tapi aku harus tetap terlihat setuju dengan keputusannya.
Hari itu pikiranku dipenuhi dengan ketakutan, lagi lagi aku harus menghadapi jarak, hanya saja kali ini benakku berkata dia kekasih terbaikku, yang aku percaya dan sangat kusayangi, yang tak akan mungkin meninggalkanku hancur ataupun terluka. Tetapi tetap saja hati ini masih gelisah.
Sesampainya di Ibukota Jason langsung mengabariku, dia terlihat sangat senang, akhirmya dia bisa mengejar mimpinya, pergi meninggalkan apa yg dipilihkan orang tuanya. Bebas di ibukota dengan keputusannya sendiri.
Namun ternyata itu tak berlangsung lama, sial bagi kekasihku tersayang baru saja dia mulai bekerja pandemi melanda dan Jason pun dirumahkan.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pun mulai diberlakukan. Jason tak tau harus berbuat apa dan aku yakin pada saat itu pikirannya sangat kacau atau mungkin kecewa dengan keadaan.
Di masa masa sulit itu tak sedikitpun perlakuan dan perasaanku berubah terjadap Jason, tapi tidak dengan Jason. Dia mulai sulit untuk dihubungi dan terkesan menghindar dariku.
Aku mencoba memahami apa yang dialami kekasihku di Ibukota.
tapi nyatanya mungkin aku memang tidak mengerti apa yang Jason hadapi dan mulai tidak sabar dengan perlakuan Jason yang selalu menghindar dariku.
Hatiku hancur... Lagi..
mencoba menyangkal semua yang terjadi, aku tetap sabar menunggu kabar dari Jason, dan tetap menguatkan hatiku, kekasihku tak akan pergi, dia tak akan berkhianat.
Seminggu, dua minggu, bahkan mungkin 3 bulan Jason tak lagi membalas pesanku.
Teringat kembali hari dimana aku mengantarnya ke Bandara, ternyata itu hari terakhir kami, peluk terakhir Jason, senyum terakhir yang sangat tulus yang pernah aku terima, kata kata meyakinkan yang akhirnya menjadi boomerang untukku.
Iya.. kekasihku pergi dan tak kembali untukku..
Tak semudah itu aku menyerah, eka teman sekamar Jason pun menjadi sasaran kekalutan hati dan pikiranku.
Beberapa kali aku menanyakan kabar Jason melalui eka, menuangkan kesedihan dan kekecewaanku kepada Eka, baiknya eka mengerti dan cukup jadi pendengar baiku.
Satu hari ketika aku sedang menjalani karantina di kampung halamanku, aku menelpon Eka untuk menanyakan kabar Jason, karena Jason sudah tak lagi membalas pesan maupun teleponku. Eka menyarankanku mendengarkan lagu Rehat, seketika air mataku mengalir deras. Lelah yang aku rasa selama ini, kekalutan hati dan pikiranku, beban yg aku tanggung sendiri semenjak kepergian Jason semua tumpah ruah di bantal kesayanganku di kamar nenek.
Rasa sayang yang terlalu besar membuatku tak bisa sedikitpun marah atau menyalahkan Jason kekasihku. Aku hanya bisa menyesali semuanya, terlanjur.. dan tak ada jalan keluar.
Aku bak terkurung dalam segudang kenangan manis dan tak bisa keluar walaupun hatiku tersayat dalam dan sangat sakit.
Jason yang aku yakini tak akan meninggalkanku, malah pergi dan mengacuhkanku, diam seribu bahasa dan lenyap seketika..
Comments
Post a Comment