Semakin hari aku dan edo semakin tak terpisahkan.
Sepertinya aku semakin menikmati saat saatnya bersama edo, setiap hari mereka bertemu, tanpa jedah.
Hingga suatu malam papa mulai kesal melihat edo yang setiap malam datang menemuiku, dan sudah pasti kalau begini aku lah yang di tegur papa.
" gak apa apa kan kalo aku sering menemui kamu??"
" gak apa apa kok" jawabku, namun dalam hatinya muncul gelisah, sudah jelas barusan papa menegur supaya tidak terlalu sering menemui edo. Tapi apalah daya norah belia sedang jatuh cinta, mana dia dengar perkataan sekalipun itu keluar dari mulut orang yang sangat disegani nya.
Semuanya berjalan lancar, hari demi hari mereka habiskan untuk bertemu, saling bertukar pesan pendek, bahkan hanya sekedar menemani edo latihan di studio band nya.
Suatu malam edo seperti biasa membuat janji dengan kekasih belia nya itu,
"Norah, kita ketemu yuk di studio, aku rindu"
Tanpa pikir panjang aku pun mengamini itu. Sesampainya di studio, seperti biasa aku langsung masuk ke dalam studio yang pada saat itu edo dan kawan kawannya sedang asik memainkan satu lagu, "lagu rock" itu yang aku tau dulu.(sampai disini jangan kalian berfikir selama ini edo adalah seorang lelaki yang berambut panjang, badan dipenuhi tato dan perawakan galak, sama sekali tidak, edo adalah seorang lelaki kurus yang pada saat itu tinggi badannya juga tidak melampaui norah, yah mungkin juga karena norah terkenal tinggi, edo berkaca mata, bertangan halus mulus, dan perawakan manis bak seorang lemah lembut).
Selesai menyanyi edo langsung mengajakku untuk keluar dari studio "keluar sebentar yuk, aku mau ngomong" dan seperti biasa norah tak sekalipun membantah apa yang dikatakan lelaki itu.
" kita putus ya"
Meskipun dengan nada lembut, tetap saja perkataan edo saat itu bak petir di siang bolong, aku terheran heran, apa gerangan salahku hingga edo memutuskan hubungan ini, namun berat sekali rasanya untuk menjawab perkataan edo, aku hanya meneteskan air mata dan diam seribu bahasa, tak bergerak seketika kaku seperti patung.
"Kita putus aja ya, kamu kan sebentar lagi mau ujian nasional, harus fokus, aku gak mau nanti kamu gak lulus dan aku disalahin oleh orang tuamu''
Aku yang masih kaget pun seketika berfikir, bener juga apa yang dibilang edo toh juga ini demi kebaikanku, walaupun berat mungkin nanti bisa balikan kalau udah selesai UN.
Aku tidak menjawab, hanya mengangguk dan itu menandakan aku mengiyakan apa yang dikatakan edo.
Tak lama edo pun memutuskan untuk mengantarku pulang, tanpa ada sedikitpun bantahan dariku malam itu edo dan aku resmi putus
Bersambung . . .
Comments
Post a Comment