Norah ~ perpecahan

     Setiap hari edo selalu menemaniku, hingga sebuah kejadian yang sangat mengiris hatiku terjadi, suatu malam terjadi pertengkaran hebat antara mama dan papa, mungkin ini disebabkan mama yang suka pergi sendiri, dan banyak yang mencibir, katanya mama diluar suka menemui lelaki lain, papa yang mungkin sudah mendapat bukti langsung menghujam mama dengan kata kata kasar, mama yang tidak merasa bersalah malah marah balik dan mengusir papa dari rumah "sana pergi aja kamu, ini rumahku bukan rumah kamu, kamu jadi suami tidak becus"
Aku ingat malam itu papa diusir, aku tidak punya keberanian untuk menentang mama, aku hanya menangis di kamar, walau papa pernah bersikap melecehkan ku tetap saja dia papaku, tanpa dia tak akan ada aku di dunia ini.
Akhirnya papa pergi tak tau kemana, sejak saat itu dia tidak pernah pulang, dan kabarnya setelah beberapa bulan tidak pulang dia sudah menikah lagi, dan mama juga sesekali pulang diantar seorang laki laki, jujur aku risih dengan keberadaan laki laki itu, tapi aku tak punya nyali untuk protes terhadap mama, sampai suatu hari aku lihat ada surat nikah mama dan lelaki itu, ternyata mereka sudah menikah, tapi lelaki itu tidak pernah sekalipun tidur dirumah kami, aku juga tak tau kenapa, dia hanya menjemput mama setiap pagi untuk pergi kerja dan selalu mengantar mama pulang setiap sore.
      Sekitar hampir setahun dari perpisahan itu papa kembali kerumah, dengan raut sedih, badannya kurus dekil tak terurus, setelah beberapa hari papa dirumah, aku baru tau ternyata papa dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja yang tidak lain adalah perusahaan yang sama dengan mama dan suami barunya itu, ternyata papa mengetahui ada hubungan diantara mama dan teman dekatnya itu, iyaa. . lelaki yang selama ini selalu bersama mama adalah teman mereka, suatu hari di pabrik papa datang menemui temannya itu dan langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah lelaki itu, akibat keributan yang papa buat, diapun di pecat dari perusahaan itu.
Pada saat papa datang kembali kerumah, mama yang kasihan pun mengizinkan papa tinggal beberapa hari, jujur saat itu aku senang melihat mama dan papa akur lagi, mereka sering menghabiskan waktu di teras rumah, papa yang semenjak diusir mama sudah tidak lagi punya pekerjaan, saat itu dia cuna bisa menerima semua pemberian mama. Papa yang sebelumnya tidak pernah memasak, semenjak kembali kerumah menjadi rajin, setiap hari memasak untuk keluarga kami.
       tapi suatu hari ada seorang wanita datang kerumah dengan keadaan marah marah, perempuan itu datang menggendong seorang anak yang umurnya selitar 4 tahun, dia datang tanpa menggunakan alas kaki, dan langsung menerobos rumah dan mengumpat, mengeluarkan kata kata kasar makian, mama sontak menghadang wanita itu dan mendorongnga, dia tidak suka ada keributan di rumahnya, aku yang saat itu sedang dikamar langsung dihampiri mama "norah jangan keluar, jangan sampai wanita gila itu liat muka kamu"
Aku yang heran tapi masih merasa takut langsung aku iyakan saja perkataan mama.
Wanita itu mengobrak abrik seisi rumah dan saat itu dia melihat ponsel papa di atas meja "mana suamiku?!! Mana dia?!! Ini ponselnya, kau sembunyikan dimana dia dasar kau wanita jalang"
Sontak mama langsung menampar wanita itu, dan saat dia menyambar ponsel papa yang ada di meja sesaat itu juga adikku yang paling kacil yang saat itu usianya masih 8 tahun, tanpa takut dia menggigit tangan wanita itu dan mendorongnya, kemudian mama menjambak wanita itu dan menyeretnya keluar rumah, sambil meronta ronta dia terus memanggil manggil papa, dan beruntunglah pada saat wanita itu datang tadi papa sudah masuk ke dalam gudang, sehingga wanita itu tidak dapat menjumpai papa.
Mama menarik perempuan itu menjauhi rumah, dia menangis nangis dan mama meninggalkannya, beberapa kali dia kembali untuk menorobos masuk ke rumah, tapi tetap saja di hadang oleh mama dan adikku.
tak lama kemudian aku melongo keluar, wanita itu sudah tidak ada, dia pergi entah kemana, yang pasti sudah jauh dari rumahku saat itu, aku lihat seisi ruang tamu berantakan, mama sedang dibantu papa membasuh tangannya yang terluka, dan adik kecilku sedang kegirangan main game di ponsel papa, saat itu juga aku menangis diluar dan memang saat itu edo sudah berada di teras, aku menangis dipelukannya, aku merasa sangat malu pada edo saat itu, dan juga merasa tak berguna karena tidak bisa membantu mama mengusir wanita gila itu. Aku menangis sampai aku tertidur pulas dan edo mengangkatku ke kamar, kemudian dia pulang.
Beberapa hari papa tinggal dirumah, suasana menjadi begitu tentram, seperti biasa dia membuatkan sarapan untuk kami seisi rumah.
Namun beberapa hari setelah kejadian malam kemarin, wanita gila itu kembali lagi, dan sialnya kali ini dia melihat papa dan tanpa papa bisa bersembunyi dia menarik papa dan membawanya pulang kerumahnya.
    Mama saat itu hanya bisa diam, karena mama sudah tau kalau papa sudah menikah dengan wanita itu. Sekitar 3 hari setelah papa di jemput paksa wanita itu, saat aku tengah duduk diteras, sore hari itu aku lihat dari kejauhan sesosok pria sedang berjalan kaki, hanya mengenakan celana pendek compang camping, aku kaget bukan kepalang itu adalah papa, dia menyusuri jalan tanpa alas kaki. Setelah tiba di depan rumah dia tak melihatku dan langsung masuk ke dalam rumah, yang memang kebetulan saat itu mama sudah pulang dari bekerja.
Setelah papa mandi dan mengganti baju, di ruang tamu di bercerita pada kami bahwasannya senjak di jemput paksa wanita itu, papa di sekap dirumahnya, tangan dan kaki nya diikat di ujung kasur, celana nya sengaja di koyak supaya papa tidak mungkin kabur, karen dia pasti malu dengan celana compang camping itu, tapi papa yang sudah tidak tahan diperlakukan seperti itu mengambil peluang, saat wanita itu lengah dia langsung kabur tanpa sempat ganti baju dan bahkan untuk sekedar memakai alas kaki, mendengar cerita itu aku merasa iba, karena jarak dari tempat tinggal wanita itu ke rumah cukup jauh sekitar 57KM, aku juga tak tau bagaimana papa bisa sampai di rumah sambil berjalan kaki dengan jarak sejauh itu dengan kondisi yang tadi kuceritakan. Jujur saat itu aku rasanya mau menangis mendengar cerita papa, aku langsung berfikir betapa hancurnya keluargaku ya tuhan, kenapa jadi seperti ini.
    Setelah mendengar cerita papa, hati mama pun luluh, dia bersedia menolong papa hingga pada saat wanita gila itu kembali datang kerumah, mama dan papa hanya duduk santai di teras, wanita itu datang sambil menangis sesegukan. Papa yang kemarin juga cerita kalau ternyata pernikahan nya dengan wanita itu seperti di jebak, awalnya papa hanya bermaksud berteman dengannya, namun suatu hari saat papa datang kerumah wanita itu orang tuanya sudah bersiap dengan semua undangan bahwa akan menikahkan wanita itu dengan papa, pada saat itu papa tidak kuasa menolak, "seperti dihipnotis" katanya dengan lirih.
Saat wanita itu nangis meronta di hadapan papa dan mama, papa diam saja, mama lah yang mulai bicara pada wanita itu, apa sekiranya jalan tengah untuk masalah mereka, mama mengancam akan membawa masalah ini ke jalur hukum jika dia tetap bertindak sesukanya terhadap papa, akhirnya dengan sebuah perjanjian wanita itu menuruti perkataan mama. Malam itu papa pulang dengan wanita itu dan tak pernah lagi kembali kerumah, papa juga sudah mulai menjalani hidupnya seperti sediakala, jauh dari kami tapi tentram dengan wanita itu yang entah dimana mereka menetap.

Bersambung . . .

Comments