Setelah aku rasa hubunganku dengan reza usai, aku kembali dekat dengan beni, kami mulai lagi sering saling berbalas pesan, beni tak pernah benar benar pergi, saat aku baru saja putus atau ada masalah dengan pacar pacarku dulu, dia selalu datang, dia seolah tau kapan waktu yang tepat untuk kembali, satu kalipun dia tak pernah gagal, saat aku dan edo putus waktu SMA, Saat aku putusin edo karena sudah muak dengan sikapnya, saat aku mutusin miko, saat ibnu tak kunjung kembali, hingga saat aku merasa terpuruk saat aku tau reza seorang bisex, beni selalu muncul di saat yang tepat.
Saat ini ketika aku sudah lelah mencari reza, dia mulai menghubungiku lagi "aku kayak nya mau pulang aja, disini juga luntang lantung, gak tentu rejekinya" aku sangat bahagia mendengar kabar itu, dan aku tau saat itu beni sedang tidak memiliki uang lebih, tanpa sepengetahuannya aku mengumpulakan uang, dan saat aku rasa cukup aku bilang ke beni untuk pakai uang ini saja, beni selalu saja menolak, uang yang susah payah aku kumpulkan ini hingga rela aku tidak makan siang dan bahkan untuk sekedar hangout, semua itu aku lakukan hanya agar beni segera kembali ke sini, "kamu baik sekali norah, berjanjilah ini benar benar bantuan, bukan karena kamu mau kita balikan, aku tak bisa janji padamu norah, apa kita bisa bersama lagi atau tidak"
Jujur hatiku hancur waktu mendengar itu, tapi lagi lagi cinta membunuh logikaku "iya ben, ini buat kamu, aku gak ada maksud apa apa" padahal dalam hati aku cuma mau bilang 'pulang lah sayang, aku sangat rindu, apapun kebutuhanmu akan kusanggupi asal aku bisa kembali memelukmu' setiap hari aku bujuk beni supaya mau memakai uang pemberianku, sampai akhirnya beni benar benar luluh, dan aku membelikan tiket dia untuk pulang, pulang ke sini, ke hatiku..
Hari ini beni tiba, entah apa yang membuatku selalu ingin menolongnya, aku jemput dia dari bandara menuju rumah menumpang sebuah taxi, bahkan saat itu uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos bus dan untuk menyambung untuk naik taxi kerumah beni, untuk besok? Ahhh tak sedikitpun aku pikirkan, yang penting beni sudah disini.
Setelah beni sudah benar benar pulang, kami pun semakin dekat, entah karena beni ingin membalas budi, atau memang dia ingin dekat denganku lagi, tak tau..
Yang pasti hari hari setelah beni pulang, semangatku seakan terkumpul lagi, semakin hari semakin dekat dan aku selalu berusaha sebisaku membantu beni yang saat itu baru membuka usaha kecil kecilan, suatu hari saat akan ikut serta dalam sebuah pameran, beni bilang kalau uangnya kurang, bukan maksud meminta kepadaku, dia hanya bercerita kalau uangnya kurang dan berat rasanya untuk mendapatkan uang lebih sebelum pameran dimulai,
Aku yang saat itu memang tak punya uang lebih,tanpa beni tau, tanpa memikirkan malu dan bagaimana untuk membayar kuberanikan untuk meminjam kesana kesini,susah payah, kubuang jauh jauh malu hanya untuk membantu beni. Akhirnya aku mendapatkan pinjaman dan langsung aku berikan semua ke beni, semua! Iya semua, tak sepeserpun aku sisihkan untukku. Cinta cinta... Mengapa kau selalu memperdaya manusia..
Saat aku berikan uangnya kepada beni, seperti biasa dia menolak, meski kesal karena aku selalu membantunya seperti itu,tetapi karena memang dia butuh akhirnya dia menerima uang itu.
Ben, tak pernah sedikitpun aku meminta darimu, tak ada sedikitpun inginku menikmati penghasilanmu, aku hanya mau melihatmu tersenyum ben, aku sedih melihatmu tercekik mencari rezeki, aku tak tega melihatmu dalam kesusahan, tak apa jika aku harus membuang malu ku jauh jauh ben, aku hanya mau orang yang aku cinta tersenyum bahagia.
Semakin hari rasa cintaku ke beni sakin besar, aku juga tak tau apa penyebabnya, yang terlintas dipikiranku sekarang hanyalah, bahagiamu akan aku turuti ben, apapun itu.
Beberapa bulan sepulangnya beni, yang awalnya hubungan kami berjalan lancar semakin kesini semakin renggang, beni mulai sesekali kesal kepadaku, entahlah sepertinya aku sudah melakukan yang terbaik, tapi selalu ada salah yang dilihatnya. Sampai suatu hari beni katakan lebih baik untuk mengakhiri semuanya "kita lebih baik jalan masing masing aja, i have no love for you" saat itu rasanya bagai petir di siang bolong, aku yang selama ini sudah susah payah demi beni, nyatanya tak sedikitpun mendapatkan cintanya, tak secuil pun pantas akan bahagianya, tak sedikitpun pantas bersamanya.
Hatiku hancur... Rasanya teriris iris dan kemudian dibubuhi air perasan lemon, sakitttt sekali, tak bisa aku mengungkapkannya, beni yang sangat aku cintai, yang begitu aku utamakan, mencampakkanku begitu saja.
Berhari hari setelahnya bahkan berminggu minggu,beni benar benar mengacuhkanku, selalu aku bersikap baik kepadanya, mungkin dengan begitu hatinya akan luluh, memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki, nyatanya hati beni sudah membatu, bahkan saat aku menangis memohon kembali,tak sedikitpun beni memberikan reaksi.
Lagi lagi cinta ini hampir membunuhku
"tak mengapa kau pergi, aku hanya ingin melihatmu bahagia,bersenang senanglah, menarilah hingga nanti kau terjatuh, dan kembalilah saat kau terjatuh dan luka, kembalilah kapanpun kau mau ben, aku sangat mencintaimu"
Hanya berselang sekitar dua bulan dari hari beni mumutuskan hubungan kami, aku sudah melihatnya bersama perempuan lain, yah perempuan yang dia kenalkan padaku di coffee shop itu yang sewaktu itu beni masih menjadi pacarku. Mereka kelihatan bahagia, beberapa kali aku lihat beni memposting kemesraan dengannya, hari hari setelah beni bilang 'dia tidak punya cinta untukku' itu adalah hari hari terberat yang pernah aku rasakan, saat kau merasa akhirnya cintamu pulang, akhirnya bisa berjuang sama sama, akhirnya bisa berkumpul kembali, nyatanya beni malah mencampakkanku begitu saja, tapi sekali lagi... Tak ada sedikitpun benci di hati ini, yang ada hanya cinta yang semakin kuat, semakin besar, dan semakin tidak waras.
Jujur saja pada saat itu beni sudah benar benar pergi, tak sekalipun dia memberi celah untukku agar menata kembali, tapi hatiku masih saja dirajai olehnya, dan yang terjadi dari hari hari setelah itu adalah...
Aku menjadi wanita yang sangat menutup hati, pendiam, lebih banyak menghabiskan waktu menggambar, menulis, atau sekedar membaca yang itu semua aku lakukan setiap hari di coffe shop.
Yahh seketika aku berubah menjadi introvert yang tak sedikitpun memperdulikan omongan orang, semua orang tau aku sangat mencintai beni dari setiap tulisanku yang selalu mengerucut ke arahnya, dari setiap jawaban yang aku berikan kepada setiap lelaki yang mulai mendekatiku tak sedikitpun aku berikan mereka celah untuk masuk ke hatiku, tak sedikitpun!
Hati ini sudah mati, dan saat itu beni lah yang menguasainya, hatiku mati penuh olehnya tapi tak sedikitpun dijamahnya.
Bersambung. .
Comments
Post a Comment