Setelah mengetahui bahwa diriku hamil, hari hari berikutnya adalah hari hari yang sangat berat untukku, aku yang saat itu tak tinggal dengan mama karena urusan pekerjaan pun semakin depresi, mama tidak pernah tau kalau aku hamil. Karena memang aku tidak menceritakan ini pada siapapun kecuali miko dan edo. Nafsu makam ku semakin menurun, hari hari aku habiskan dengan menangis dan mengurung diri di kamar, sampai suatu pagi saat aku bangun tidur, pada saat masuk ke toilet aku begitu terkejut seluruh bagian pinggang hingga kaki ku berdarah, sangat banyak, setelah sedikit membersihkan badan aku menghubungi miko, dan tak lama miko pun datang yang kemudian mengantarkanku ke rumah sakit. Ternyata aku keguguran..
Depresi kata dokter, karena janin ku yang lemah sehingga tak bisa bertahan.
Lengkap lah kesedihanku saat itu. Beruntung aku masih memiliki miko yang sangat sabar menemani selama masa penyembuhanku.
Miko adalah lelaki yang sangat baik, masa masa setelah kejadian itu, dia masih saja bersikap baik terhadapku, terkuras tabungannya untuk biaya pemulihanku.tapi semakin hari aku semakin sadar, aku tidak benar benar menyukainya.meskipun sikapnya sangat manis, tetap saja hatiku tidak memberikan sinyal yang berbeda, rasa sayang itu tak ada, beberapa bulan setelahnya, dengan sangat berat hati aku putuskan hubunganku dengan miko karena aku takut kalau miko lebih lama lagi bersamaku dia akan semakin tersakiti. Saat aku memutuskan hubungan dengan miko dia menangis di hadapanku, dia memohon agar tidak mengakhiri hubungan kami, tapi aku yang semakin takut miko tersakiti tidak bisa banyak berbuat, aku bulatkan tekad dan akhirnya hubungan kami benar benar berakhir, bahkan saat itu miko masih menganggapku sahabatnya, tak ada marah sedikitpun terlontar darinya.
Setelah semua yang aku alami dan keputusanku mengakhiri hubungan dengan miko, tak salah rasanya sedikit menghilangkan penat, saat itu aku bepergian cukup jauh, menaiki pesawat jam terbang pertama di pagi hari aku pergi menuju sebuah kota yang jauh dari hiruk pikuk, rencanaku kesana juga karena ingin menemui teman yang aku kenal dari dunia maya, apa salahnya menenangkan diri sejenak dengan ditemani sahabat dunia mayaku.
Namanya aldi, selama aku berlibur di kotanya, aku menginap di rumah aldi, aldi yang tinggal bersama mama dan adik adiknya pun menerimaku dengan ramah. Mama aldi sangat baik, meskipun dia seorang wanita karir yang sibuk, setiap pagi dia sempatkan untuk memasak untuk anak anaknya, dua adik aldi juga sangat manis, aku betah berada di rumah mereka hingga beberapa hari.
Sudah waktunya pulang, akupun berpamitan dengan mama aldi dan juga 3 adikny, sasa.. Adiknya yang saat itu sangat dekat denganku pun melepas ku dengan menangis sesegukan di bandara "kakak jangan pulang lah, tinggal disini aja sama sasa" ahhh sikap mabis itu tak akan pernah ku lupa, meski berat aku menang harus pulang, karena sederet kerjaan yang sudah menunggu.
Berbulan bulan setelah aku kembali, sekarang giliran aldi yang mengunjungiku,tapi kali ini beda rasanya, aldi datang dengan maksud mengutarakan rasa sayangnya kepadaku, aku yang memang sudah lama mengenal aldi pun akhirnya berpacaran. Selama berpacaran kami terpisahkan jarak yang lumayan jauh, setidknya menempuh 18 jam jika mengendarai mobil. Awalnya hubungan kami berjalan baik. Hingga suatu hari aku melihat di akun media sosial aldi dia memposting foto dengan seorang perempuan, saat aku tanyakan aldi bilang itu contoh foto untuk prewedding, dan entah kenapa aku percaya aja atas apa yang diucapkan aldi, tapi semakin lama sikap aldi semakin berubah, dia mulai cuek, hingga suatu malam adikknya menghubungiku sambil memohon mohon maaf, ternyata selama ini aldi sudah berpacaran dengan perempuan di foto itu, aku bingung dan tak tau harus berbuat apa, karena jarak yang begitu jauh, dan kemudian aldi pun mengakhiri hubungan kami.
Saat hubunganku dengan aldi mulai renggang beni selalu ada bersamaku, meskipun saat itu dia masih berpacaran dengan tika tak sekalipun beni melewatkan sabtu malamnya bersamaku. Aku yang memang sudah merasa mentok dengan aldi pun masih sangat mengharap bahwa yang dikatakan dwi adikknya aldi adalah bohong. Hingga suatu hari kuputuskan untuk kembali mengunjungi aldi, dan benar saja aldi memang sudah berpacaran dengan perempuan itu, namun saat aku datang berkunjung hubungan mereka sedang tidak baik, sehingga aldi dengan ramahnya menerimaku dirumahnya lagi, begitupun mama aldi yang memang saat itu sangat rindu padaku. Beberapa hari aku tinggal di rumah aldi tak sekalipun perempuan itu datang, itu yang membuat aku sedikit tak percaya pada aldi, tapi semua foto dan perkataan adikknya membuka mataku, bahwa aldi yang aku sayang memang bukan milikku lagi, hancur hatiku berkeping keping, kenapa selalu saja seperti ini ...
Setelah kembali ke rutinitas harianku, ada seorang lelaki yang ternyata mulai perhatian, namanya ibnu, anak semester akhir universitas negri itu pola pikirnya sangat kritis, jauh dari tipe ku, tapi entah mengapa aku nyaman dengannya, meskipun kadang hal sepele bisa membuat kami ribut besar,semakin lama semakin dekat aku dengan ibnu, sampai akhirnya kami berpacaran.
Dan bisa di tebak hari hariku selama bersama ibnu lebih banyak kami habiskan dengan berdebat, mempermasalahkan bahkan hal yang sangat sepele, hingga saat ibnu selesai dengan pendidikannya ia pun kembali ke kota asalnya dan tak pernah kembali lagi kepadaku. Setelah 6 bulan aku menunggu, ibnu pun benar benar tak kembali, meski hubungan via telepon selalu lancar dengan ibnu, tetap saja aku tak tahan dan lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kami.
Bersambung . . .
Comments
Post a Comment